Kamis, 20 Maret 2014

RESENSI NOVEL HUJAN DAN TEDUH


Jumat, 21 Maret 2014
                                                         





Hujan dan Teduh
Penulis : Wulan Dewatra
Penerbit  :  Gagas Media
Tahun   :  2011

Sinopsis :
Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan....


======================================================================

Satu paket pesanan buku nyampe dengan selamat ke rumah saya waktu itu. Gak biasanya, bungkusnya kertas koran, bikin orang di rumah jadi curigaan. (Ups, malah ngomentarin paket :D)

Awalnya saya membaca yang covernya warna orange muda, tapi kemudian pindah ke novel lain, yang - jujur aja - karena terbius dengan covernya yang meneduhkan, judulnya yang romantis, komentar juri didepannya yang juga nggak kalah manis serta foto penulisnya di cover belakang, semuanya langsung membentuk gambaran utuh di benak saya akan sebuah novel yang sweet, smooth, fresh dan very touching.

Baru separoh jalan ngebaca....OMG! Saya sampe nanya retoris : beneran nih?? ini novel yang menang??

....saya kecele!
Dibalik kemasan yang serba manis itu, didalamnya saya temukan karakter tokoh cewek  yang biseksual,  karakter cowok yang 'sakit' alias posesif dan rada psikopat, alur cerita yang diwarnai SBM (sex before marriage) yang berulang-ulang, juga solusi-solusi semacam  : aborsi, berciuman dengan cowok lain demi membatalkan pertunangan, sampai....suicide!

Hmm...
Silahkan bilang saya kuno, konservatif, konvensional, nggak up-to-date, kurang gaul, tapi dalam kacamata si emak kolot dari kepulauan ini, saat membaca sebuah fiksi yang memuat kisah penyimpangan a.k.a pergeseran moral  yang tersaji dengan gaya tutur yang SANGAT manis, SANGAT indah, SANGAT meremaja, SANGAT jujur (sengaja, kata 'sangat'nya pake kapital, karena dari segi penuturan, novel ini memang SANGAT memikat), maka semua penyimpangan tadi seakan menjelma sebuah potret peristiwa yang sudah biasa dan dianggap lumrah, adalah sebuah realita dalam pola pergaulan generasi muda jaman ini.

Meski didalamnya juga digambarkan akibat dari perbuatan menyimpang itu, dimana ceweknya terkena  infeksi rahim sehingga rahimnya diangkat, pesan ini rasanya kurang menohok, mungkin, ya karena didukung penuturan yang amat manis itu tadi.  Dan kalaupun novel ini dianggap bagus dari sisi keutuhan konseptual, saya justru gagal menemukan sebab yang jelas kenapa si tokoh cowok yang rada psikopat itu bisa menjelma jadi baik dan bertobat secara tiba-tiba (meskipun, pertobatan itu hanya tercermin dalam keinginannya untuk menikah), dan kenapa si tokoh cewek  bisa menjadi seorang biseksual tanpa didukung oleh latar belakang keluarga atau lingkungan misalnya. Juga penyesalan si tokoh cewek kurang tergarap secara maksimal, sehingga - yah, lagi-lagi - saya menangkap kesan dan pesan bahwa semua bentuk pergeseran disini adalah sebuah pelumrahan (???). bagian dari gaya hidup. Seakan-akan saya dapat mendengar sang penulisnya mengatakan didepan saya.


Dan kurang adil rasanya kalau nggak menyebut kalau novel ini nggak punya kelebihan, bagaimana pun, ini juara pertama kompetisi, selain penuturan yang manis dan mengalir, tema yang diangkat cukup berani, dan penulisnya juga berhasil mengemas tema itu dengan alur maju mundur yang menarik dan nuansa yang dibangun juga nggak biasa. Dan tentu saja, keunggulan yang paling eye catching adalah pada cover dan blurbnya. Asli deh, fisik novel ini memang keren, sehingga covernya pernah masuk finalis API (tahun berapa saya lupa) untuk nominasi cover pilihan.

Akhir resensi ini saya tutup dengan doa, semoga generasi dibawah saya, terutama mereka yang terlahir dari rahim saya, dipelihara oleh Tuhan Yesus kristus dari pergeseran budaya yang dianggap biasa dan terhindar dari ikut-ikutan membiasakan dan melumrahkan penyimpangan... AMIN :D


^Dean_Dean

Tidak ada komentar:

Posting Komentar